Tampilkan postingan dengan label ocehanku. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label ocehanku. Tampilkan semua postingan

Kamis, 05 Februari 2015

Refleksi Sejenak

Apakah itu harga sebuah kompromi? Suatu prasyarat koalisi yang aneh. Atau sekadar isyarat, jika harus bertarung dalam kediaman ini. Ancaman kebetulan datang tak berani mengambil risiko untuk membangun aliansi yang lebih luas.

Islam melarang spekulasi dan penimbunan yang merupakan inti sistem keuangan Barat. Infrastruktur kita harus ditata ulang atas pada suatu rancang bangun yang real bukan pada rancang bangun kongkalikong, yang berdasarkan manufaktur yang real bukan yang palsu. Investasikan pada proyek-proyek yang nyata di dalam negeri bukan pada asset keuangan yang menganggur di luar negeri, tanggulangi kemiskinan sebagai prioritas, bukan hanya memberi talangan pada orang-orang kaya, investasikan pada infrastruktur jangka panjang dan bukan pada tempat-tempat hiburan untuk wisatawan Barat. Saya  tahu bahwa Anda sebagai penguasa telah datang ke tampuk kekuasaan, tapi tidak menawarkan alternatif apapun, namun anda datang untuk menyanyikan bait-bait pujian atas sistim kapitalis yang telah runtuh. Anda telah membuktikan diri anda menjadi tidak berarti apapun selain menjadi kaki tangan kriminal kapitalis global yang saat ini mempengaruhi jutaan orang di dunia Muslim. Apa yang dibutuhkan oleh dunia Muslim pada hari ini bukanlah para penguasa yang sangat merendahkan diri dan tanpa malu mengikuti Barat tetapi yang dibutuhkan adalah para negarawan yang visioner, bukannya para wayang yang akan menyetujui penawaran dari Barat melainkan yang dibutuhkan adalah singa-singa yang akan membawa penduduk dunia kedalam dunia baru yang terang benderang.

Senin, 08 September 2014

Tentang Perjalanan

Ini sebuah mimpi yang masih mengawang, ya sebuah  mimpi untuk mewujudkan peradaban islam dalam ruang lingkup arsitektur dan perencanaan wilayah dan kota. Aku yakin, suatu desain mampu membentuk perilaku masyarakat yang ada di sekitarnya. Oleh karena itu, peninggalan kejayaan Islam di masa lalu, perlu kita pelajari agar peradaban Islam dapat kembali kita wujudkan.

Berbicara tentang perjalanan, aku langsung teringat akan konsep hidup ini. Ya, hidup ini adalah suatu perjalanan, bukan tujuan sebenarnya. Aku menyukai perjalanan, karena bagiku, perjalanan itu sungguh mengasyikan. Menikmati sebuah perjalanan memiliki banyak manfaat, walaupun biasanya hal tersebut tanpa kusadari telah kurasakan. Dalam masa yang panjang dalam mengarungi suatu perjalanan, ada sebuah perenungan yang dapat kulakukan.

Sabtu, 05 April 2014

Melek dong !!!

Kita yang sekarang masih melek pastinya tahu bahwa di sekitar kita masih terlalu banyak orang yang membutuuhkan uluran tangan kita, dan butuh solusi praktis, seketika. Banyak permasalahan yang nampak di sekitar kita yang bermuara pada masalah kemiskinan. Solusi kepada syari'ah dan khilafah untuk mengatasi ini semua bagi sebagian mereka masih merupakan solusi yang utopis untuk diwujudkan. Pun kita tahu, kemiskinan di negeri yang kaya ini, bukanlah kehendak alam. Namun adalah kemiskinan yang terstruktur dan lebih tepat dibilang pemiskinan. Kelas-kelas masyarakat seakan dikekalkan.Jurang pemisah antara yang kaya dan si miskin masih menganga lebar. Masih tetap ada kaum borjuis dan kaum proletar.

Pun aku, kamu, dan mereka, kita semua sudah terlalu jengah melihat dan merasakan semua kesulitan hidup. Lagi-lagi dan lagi berujung pada masalah perut. Terlalu banyak orang yang telah melihat segala kemunafikan sistemik yang melanda negeri yang seharusnya bisa menyejahterakan semua rakyatnya ini. Negeri yang seharusnya tidak salah urus. Kondisi yang rusak diperparah lagi oleh para pemegang amanah yang mengkhianati rakyat. Layar panggung sandiwara di negeri ini tanpa basa-basi dibuka tutup secara musiman. Sudah terlalu banyak aktor yang sukses membuat rakyat terkagum-kagum, bahkan membuat rakyat menangis berdarah-darah. Luar biasa bukan ? Sampai-sampai pemain film peraih piala citra saja bagai seujung jari, tidak ada apa-apanya. Hebat kan ? Tidak banyak yang sadar kalau sekulerisme adalah biang dari kemelaratan negeri ini. Sekulerisme yang menjadi biang keladi, memisahkan kehidupan kita di dunia dengan kehidupan selanjutnya di akhirat. Dan semakin meradang saja kondisi negeri kita ini. PARAH !

Selasa, 25 Maret 2014

Tak Peduli

Aku terkoyak, terhempas hingga terjatuh. Menyusup mencari kebenaran hakiki yang terkubur fitnah, retorika yang ku gaungkan terpental tak berbekal. Berjuta faham kian meracuni, sekularisme, kapitalisme, sosialisme, komunisme, pluralisme, nasionalisme mencengkram kuat dalam ummat. Seuntai kata ingin ku lontarkan “ itu sistem setan” sistem yang membakar peradaban.

Mesiu perubahan semakin merekat kuat, tegap melawan ketidakpastian yang terus tertanamkan. Mercusuar kini mulai ku daki, berlari mengejar kebenaran hakiki yang kini mulai dipermainkan. Tak peduli kau membelokan pemahamanku, menggeser pelan-pelan dan bersembunyi dibalik kamuflase iman. Ingin ku banting dan ku lipat dalam genggaman.

Nafas ideologi itu, perlahan namun pasti. Terasa menghujam kuat dalam jiwa. Dengan rasa kepengecutan yang terus bergejolak. Keyakinan akan faham yang ku perjuangkan pasti bisa melepaskan dari segala kebobrokan zona faham setan yang kini mencengkram. Demokrasi yang kini diagung-agungkan, hanyalah sebuah ilusi semata. Hingga tak mampu mensolusikan bagaimana api dapur akan tetap menyala.

Radikal, aku tak peduli. Sesat, masa bodoh. Aku tahan rasa ini hingga mengalir air mata hanya demi sebuah kebenaran. Andai aku tak kuat menahan beban ini, ingin ku limpahakan semuanya keruang waktu. Bertahan dengan segala kelemahanku membuat dadaku berasa bergetar hebat. Aku takut tenggelam melawan kekejaman faham setan, bebaskan aku dari angan-angan kosong, kulihat angan-angan itu tak lebih dari ilusi semata. Berikan iman sebagai cahaya bagiku, kuatkan keyakinan pada diriku.

Selasa, 10 Desember 2013

Saat Hidup Hanya Memberiku Dua Pilihan


            Ada harga yang harus kita bayar untuk setiap keputusan dan pilihan. Mahal atau murahnya harga itu tergantung pada hasil kalkulasi “ untung rugi ‘’ kita dan orientasi hidup mana yang kita ambil. Kita mau orientasi hidup yang segelas, maka itulah yang akan kita dapat. Risikonya pun hanya akan segelas. Kita mau tujuan hidup yang sebesar gunung, makan itulah yang akan kita hadapi beserta risikonya yang sebesar gunung pula.
            Prinsip high risk high return akan selalu hadir dalam setiap pilihan kita. Ayaknya bisnis investasi, hukumnya sangat simple : mau profit besar, tentu ada risiko besar membentang. Mau laba kecil, risikonya pun juga kecil. Mau cepat kaya, mainlah saham atau indeks. Tapi anda bisa kere seketika karenanya jika anda salah langkah. Mau aman-aman saja, cukuplah main deposito, tapi kapan anda akan kaya mendadak ?
            Lhah, itulah risiko setiap pilihan hidup.
            Yang aku tahu pasti adalah bahwa jika aku ingin hidup yang besar, maka aku harus menantang risiko besar. Aku tidak akan pernah jadi siapa-siapa jika aku tidak berani menghadapi tantangan dan risiko berat untuk menjadi siapa-siapa. Aku ingat betul teori Madness and Cicilization-nya Michael Foucault yang konon homoseksual itu bahwa kegilaan akan menghadirkan sebuah peradaban baru, kondisi baru, teman baru, kehebatan baru,. Kegilaan adalah pangkal dari perubahan ! dengan kata lain, maaf ya, aku sepakat dengan pemikiran Foucault dalam konteks ini, jika kita ingin menjadi berbeda, kita harus berbuat berbeda. Jika kita ingin hebat, maka kita harus menabrak pilar-pilar kebiasaan, tradisi, kecenderungan, karena hanya dengan cara demikianah kita akan meahirkan “ peradaban” bagi hidup kita, setidaknya. Berbuat gilalah, maka anda akan berbeda !
            Foucault benar jika teorinya itu diterapkan pada terbentuknya peradaban Islam yang dibawa Nabi Muhamad SAW , misalnya. Keberanian beliau untuk melawan langgam tradisi dan keyakinan masyarakat Quraisy, yang menyebaban beliau diusir, dicaci, mau dibunuh, dilempar kotoran, atau disebut gilalah, yang justru menjadikan nama beliau besar dan hebat bersama Islam. Andai beliau tidak melawan tradisi masa itu, bersikap biasa saja, “ tidak gila “, niscaya peradaban Islam ini tidak akan pernah ada.
            Ini terjadi pada semua peradaban. Abraham Lincoln pun begitu. Napoleon onaparte ppun begitu. Salahuddin al-Ayyubi pun begitu. Rabi’ah a-Adawiyyah pun begitu. Mahatmah Gandhi pun begitu. Akhiles pun begitu. Ajisaka pun begitu. So-sha pun begitu. Sukarno pun begitu. Mario Tegh pun begitu. Semua hero bukanlah orang yang belaku kecil, tapi sangat besar, gila bahkan ! So, do something different, something crazy, take the risk, you will become different as you wish ! itulah rumusnya.
            Aku sudah mengatakan berkali-kali pada temanku yang berkeluh kesah tentang posesivitas kekasihnya itu bahwa kekasihnya itu bukanlah yang terbaik baginya. “ kamu bukanlah tipe wanita rumahan. Kamu tipe wanita public, berhubungan dengan banyak orang, berkakier. Maka, bayangkan bagaimana kamu bisa eksis dan bebas berkreasi jika pasanganmu adalah orang yang selalu curiga padamu, perlu selalu tahu dimana kamu berada , harus men-3G-mu anytime, mengecek HPmu ketika bertemu.
            Kita merasa lebih nyaman untuk hidup tidak nyaman hari ini dibanding hidup penuh risiko dan rekoso hari ini untuk kenyamanan besar, kebahagiaan besar, di masa yang akan datang. Kita lebih suka memilih kebahagiaan sekejap ketimbang kebahagian jangka panjang.
            Coba deh renungkan apa pun yang telah anda lakukan saat hidup hanya menyuguhkan dua menu pilihan di meja jiwa anda, X dan Y saat kita berada dalam posisi harus memilih begitu, pastilah yang kita lakukan pertama kali adalah menimbang plus minus masing-masing pilihan itu. Apa untungnya jika memilih X atau sebaliknya. Celakanya, mayoritas kita “ terbiasa” dengan sadar memilih menggunakan hierarki “ mana yang risikonya paling kecil kendati artinya sangat kecil”, bukan “ mana yang paling besar, meskipun dengan risiko yang lebih besar pula.” Inilah yag mendominasi hati dan pikiran kita saat harus memilih.
           

Kamis, 28 November 2013

Sulitnya Bergerak

Pergerakan ini tak semulus ketika aku memepetkan dua buah rotering sehingga menghasilkan sudutan 90derajat, penuh cekalan disana-sini, banyak setan yang berlaku sinis padaku, bahkan ketika aku baru mengayunkan selangkah kaki, cekalan jelas di depan mata. Pandangan kabur seketika, aku kalah dalam pergerakan ini.

          Terjal, sangat-sangat terjal jalan yang aku telusuri. Sama terjalnya ketika aku menganalisis sebuah tapak, banyak lapisan yang harus ditembus sampai mendapatkan lapisan tanah asli, menentukan sebuah kontur yang terus tercekal elevasi satu kontur dengan kontur yang lain. Begitu pun dalam pergerakan yang aku lakukan, grasak-grusuk menyelinap masuk lembaga-lembaga demi menyampaika apa yang aku anggap benar. Belum lama mulutku berucap, sudah tersumpal dengan pendapat yang mereka yakini kebenarannya. Dan untuk yang kedua kalinya pergerakanku tercekal. Aku mencoba bergerak keluar dari zona itu, mencoba berbaur dengan individu-individu yang tak peka dengan hal ini, mencoba menyampaikan opini-opini islam, baik itu dalam bentuk selebaran-selebaran maupun berdiskusi peace to peace dengan mereka. Dan apa yang aku dapat ? selebaran itu mereka anggap hanya kertas lusuh tak ada arti, mereka mengacuhkanku, mereka apatis, membutakan mata dan menulikan telingaya. Sekalinya aku mendapatkan respon dalam diskusi itu, mereka mengajak debat kusir. Ini yang membuat aku benci ketika bergerak keluar. Aku lemah dalam hal ini.

          Pernah ketika aku memasuki sebuah tempat perbelanjaan ada seseorang yang nyinyir padaku, dia bilang aku sesat, te*****. Hanya karena aku berpakaian seperti ini hitam-hitam dengan bagpack berlafadzkan laillahailallah. Ada yang salah ?

          Ya Allah permudah aku dalam pergerakan ini, bukankah ini semata-mata untuk mengagungkan-Mu.


Semarang, 29 Nopember 2013
                                                                  
         Rina Mei

Minggu, 03 November 2013

Semakin Jauh

Dibalik lemburku terselip amalan-Mu yang terus aku selimuti. Tragis malam-malamku berlalu tak henti waktu, aku bersembunyi di dinginnya malam-Mu, mengumat di balik dinding itu, yaa dinding yang rutin menjadi senderan punggung ini tatkala lembur larut-larutan. Dingin itu menelisik terus mencari titik terlemahku, sesekali ku tangkas dan ku siasati rasa dingin itu dengan secangkir kopi, hampir setiap malam kopi itu terhidang di meja kusam itu.

Malam-malam-Mu ku habiskan bersama kopi butek itu, tatkala pecandu itu habis, bergegas tengok kanan-kiri mencari penjual sekoteng lewat, ini ku lakukan semata-mata untuk menyelinap, berada tahan dengan dingin itu.

Tak mau mengalah dengan bantal yang melambai meminta di manja si empunya bantal. Namun, tatapan sinis terus aku lirikan padanya, memang lama sudah aku tak bermanja-manja ria dengan bantal itu. Fokusku hanya pada kertas kosong yang senantiasa aku cumbu setiap malam, pensilku menari-nari dengan liar, menggores, menarik tebal garis, bahkan saking semangat tarikan pensil itu meroek sebagian kertas. Aku tak menyerah, terus ku ulang hingga berakhir penggambaran itu. Tak tanggung-tanggung hanya demi sebuah "garisan pensil", aku sering melalaikan amalan malam-Mu (baca: tahjud).

Terus berulang rutinitas ini, inchi demi inchi dalam satuan pengukuran ku cermati betul, salah seinchi, bobroklah gambaran itu. Sesekali kepala ini tersungkur pada meja bermotif angry brid.

Aku malu pada malam yang Kau fingsikan untuk merehatkan setiap makhluk ciptaan-Mu. Kau ciptakan malam semata-mata untuk merefresh aktifitas di siang hari. Tapi hal ini sering tak aku lakukan.

Syarat untuk melaksanakan amalan malam-Mu (baca:tahajud) adalah tidur terlebih dahulu, aku malu tak memenuhi persyaratan itu, sesekali aku tertidur, yaris tidurku mendekati waktu fajar. hingga sepertiga malam iu terbuang begitu saja. " Barang siapa meluangkan waktu untuk-Ku, niscaya dia akan mempermudah jalan-Mu". Kalimat itu aku pegang terus, tetapi masih kurang dalam pengaplikasiannya, aku lalai. Sadarkan aku Ya Allah ...


                                                                                                      Semarang, 3 November 2013

Rabu, 23 Oktober 2013

Fokuskan Tujuan

Alloh hanya menyediakan dua tempat untuk mereka yang taat pada syari'at-Nya yaitu surga dan neraka. Tidak ada tempat ketiga yang Dia siapkan untuk mereka yang galau dalam beribadah, yang bimbang dalam menjalankan halal haramnya Alloh, yang malah selalu taat pada halal haramnya manusia. Terkadang hanya karena perbedaan sepela dalam sholat, jengkal shaf mulai merenggang, saling punggung-punggungan, jalinan silahturahmi kian tak tertatakan.

Mencoba menilik pemahaman yang satu dengan yang satu, tidak ada pebedaan, semunya damai-damai saja. Kenapa ini semua diperdebatkan ? ada yang salah ? apa ? dalam konteks apa ?. Duduk berdampingan berubah jadi tuding-tudingan, hanya karena perbedaan persepsi. Muslimah yang berjilbab lebar, malah di kecam tak sadar perkembangan jaman. Yang ada jilbab tak syar'i diagung-agungkan, merebak hingga membius "wanita desa" yang terkalutkan. Perkembangan kini sangat mengharukan, kaum intelektual (sebut : mahasiswa) tidak dapat membedakan mana yang dimaksud jilbab dan mana yang harus disebut kerudung. Terkadang perlakuan mereka yang sinis pada muslimah yang berjilbab teramat tidak memanusiakan manusia. Apa yang salah ? toh sama-sama berpakaian. Seharusnya perlakuan sinis yang mereka lontarkan itu di tujukan pada tujuan yang tepat, pada mereka yang berpakaian tapi tidak berpakaian. coba tengok dan cemati  :

"Hendaknya menutup seluruh tubuh dan tidak menampakkan anggota tubuh sedikit pun, selain yang dikecualikan karena Allah berfirman, “Dan hendaklah mereka menutupkan kain kerudung ke dada mereka dan janganlah menampakkan perhiasan mereka, kecuali yang biasa nampak.” (An-Nuur: 31) 

Masih belum paham ?

"Allah Subhannahu wa Ta’ala,“Wahai Nabi katakanlah kepada isteri-isterimu, anak-anak perempuanmu dan isteri-isteri orang mukmin, “Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka”. Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, karena itu mereka tidak diganggu. Dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyanyang.” (Al Ahzab :59).

So, berjilbab yukkk !!!



                                                                                                         Semarang, 24 Oktober 2013
 



Rabu, 02 Oktober 2013

Sederhana Saja



Belum tercerna penafsiran dari kalimat ini “ Islamic Solidarity Games”. Bukan saya tak mengerti makna antar kata pada kalimat yang saya anggap wagu pada kalimat pembuka tulisan ini. Sederhana saja, terbersit arti dalam ingatan hanya kata “solidarity” yang berarti senasib sepenanggungan, bukankah sangat luas jika pengaplikasian kata itu kita sematakan pada pribadi muslim yang jelas akan membangun kesatuan umat Islam yang terkotak-kotak ini. Atau bahkan itu hanya dijadikan teori yang nantinya akan terintegralkan pada generasi di bawahanya.
Malam ini saya menyaksikan hiruk – pikuk penutupan dari acara ini, luar biasa menggema kemeriahannya. Berapa anggaran Negara yang bocor hanya untuk mendanai acara yang katanya akan meningkatan “kesolidan” ini ? Ahh…saya tak paham betul. Sepertinya tak ada transparansi dalam hal ini. Memang saya tertinggal dalam  pembukaan acara ini, hingga tersamar tujuan dari penyelenggaraan acara tersebut. Adakah terselip satu tujuan untuk kesatuan umat dalam melanjutkan kehidupan Islam kembali dan menerapkannya secara kaffah ? Atau ini hanya ajang pertandingan parallel yang tak ada bedanya dengan pertandingan-pertandingan lain, ohh..mungkin yang berbeda hanya tema dari acaranya saja.ya, bisa jadi. Sudahlah…
Coba tengok dibelahan bumi sana !!! mereka merengek, tercekik, berduel dengan si moncong tank baja. Beradu cepat dengan senapan, tersandung waktu nyawa taruhannya. Mereka tergelepar, adakah P3K yang sigap menghampirinya. Mereka mati, tak ada wasit yang meniup pluit untuk menghentikannya dan memberikannya kartu merah. Waktu tak membatasi kaum zionis untuk memborbardir mereka, berbeda dengan ini yang terbatasi waktu.
Bandingkan dengan penyelenggaraan acara ini, dimana letak kesolidan yang dianggap tujuan utama dari acara terebut.
Penonton bersorak-sorai tatkala tim unggulannya dapat menjebol gawang musuhnya. Tak heran mereka yang duduk berdampingan berubah menjadi tuding-tudingan hanya karena timnya tak sengaja menyikut tim lawan. Terus dimana posisi “kesolidan” itu bersembunyi kawan ?
Sederhana saja, lantas perlukah penyelenggaraan ini tumbuh nantinya tanpa jelas tujuan nyata untuk setiap muslim di seluruh belahan dunia ?

                                                                                                              
                                                                                                     Semarang, 1 Oktober 2013

Minggu, 29 September 2013

Coba kau terka

Ah, ini bukan masalah kesiapan hati. Mungkin anda menilai sesorang tanpa pemahaman yang mungkin belum anda temui kebenarannya, yaah ibarat seekor mon*** yang mencoba berpakaian anggun di tengah-tengah rekannya yang bertelanjang. karena berbeda bisa jadi dia dikucilkan bahkan bisa saja dia di bunuh.

Terlontar kata yang sangat menyayat hati, sampai hegemoni duniawi tak mampu membekukan luka ini. sempat terbersit untuk ku tumbangkan saja, ahh...bodoh. kau sungguh kecil dalam masalah ini. "sumpal saja mulut mereka yang mencoba menertawakanmu ". si sinis mulai menggodaku,. tak mungkin perlakuan itu aku tujukan pada mereka, yang jelas-jelas benalu untuk kehidupanku.

Senja ini menjadi bukti ke bisuan yang gegap gempita, mulai menular pada setiap mereka yang bercengkrama pada si orange ini, memikul beratnya keringat sisa siang tadi yang belum kering betul. ahh.. terlalu dini aku ceritakan saat ini, sebaiknya kutahan saja hingga senja esok. bukankah senja pasti berulang besok ? silly, memang raut yang ku terka pada orang itu. mereka mulai mencampakan kehidupannya detik ini, dan menyisakannya untuk esok hari, bukankah besok belum tentu kau jumpai senjai itu? bagaimana jika kau mati detik ini ?atau setelah kau beranjak duduk sepersekiandetik ?bisa jadi-bisa jadi, atau bahkan tidak-tidak-tidak, mungkin iya...iya..iya..

Sudahlah..... :o


Kamis, 11 Juli 2013

MEREKA MENGEJEKKU

Merenung, yaa itulah aktivitasku akhir-akhir ini. Heran, bimbang, dan galau mungkin itu rasa yang saat ini berkecamuk menari-nari melawan kefrontalan hati. Bodoh, itu bisikan yang masih aku dengungkan dari kalian yang pernah menggunjingku.

Entah apa yang harus aku rubah dalam diri ini, perasaan was-was selalu menghantui tatkala aku beriringan dengan kalian yang menganggap aku berbeda.

Sungguh ini membekas dalah hati, Tuhan. Bahkan benang-benang utusan-Mu pun tak mampu membekukan luka ini. Aku tau, sikapku berdendam hati itu di benci oleh-Mu. Tapi rasa ini masih ada, Tuhan.

Mereka mengejekku, aku takut Tuhan. Takut kalau-kalau nanti mereka membawa gerombolan dari sekalian mereka mengintrogasiku. Dan bertanya padaku, " mengapa kau berbeda dari yang lainnya?". Lantas apa yang nanti akan ku keluarkan dari mulut ini.

Bibirku masih kelu untuk menyampaikan yang sebenarnya memang harus dan kudu aku sampaikan, tapi aku masih ragu Tuhan, ragu dengan mereka yang nanti akan mengejeku kembali bahkan menertawakanku dan menganggap aku berbeda.

Mungkin ini proses yang Kau skenariokan untukku,

Sekali lagi Tuhan, mereka mengejekku I'am so sad, God. Please help me .

Rabu, 10 Juli 2013

MERONTA

Mungkin saat ini aku belum diberi kesempatan untuk pulang bertemu denganmu ,bu. Tapi aku disini baik-baik saja, dikanan kiriku banyak orang-orang yang menyayangiku, mereka menghormatiku, menghargai aku ,dan aku pun senang berada disekitar mereka ,bu.

Bu, jika aku jujur.  Hati ini menangis, meronta ingin pulang, ingin bersandar dipangkuanmu, bu. Meski hanya beberapa detik saja. Bu, ada dua hal yang membuatku enggan untuk pulang. Enggan bukan berarti aku tak rindu orang-orang rumah, bukan bu. Sama sekali bukan.

Pertama mungkin ibu paham dengan kondisiku saat ini, sekarang aku lagi meniti masa depan, bu .Yaaa aku harap ibu mengerti aku. Tiap malam aku selalu meluangkan waktu untuk merenungi ni semua, merenung meski hanya kungkungan diri. Hati ini selalu tak kuat menahan tekanan yang terus bergemuruh melawan keinginanku untuk pulang. Di sisi lain, malaikat jahat selalu berbisik padaku, agar terus tetap stay cool in here. Anehnya malaikat jahat itu selalu menang melawan malaikat baik, apa mungkin saking baiknya malaikat baik itu, jadi dia bermurah hati untuk merelakan malaikat jahat itu untuk menang. Ahhh... sungguh itu konyol.

Untuk alasan kedua, mungkin ibu sangat memakluminya. Yahh apa lagi kalau bukan biaya untuk ku pulang. Bu, ongkos untuk aku pulang ke kampung halman sepertinya aku harus memenuhi kaleng susu terlebih dahulu, minimal kupenuhi dengan lembaran merah mungkin itu cukup, ahh.. tidak itu baru cukup setengah perjalan saja. harus ku isi lagi dengan lembaran biru, yahhh.. mungkin itu bisa mencukupi untuk aku pulang. 

Bu mungkin aku tak pulang gara-gara presiden kita, bu (yaahh ..bisa jadi), kenapa ? Dia mencoba menjauhkanku dari mu, bu.  Dengan alih-alih menaikan harga BBM yang jelas-jelas mencekik kantongku, sehingga aku tak mampu untuk membeli tiket pulang,bu. Bu, aku tak ingin disebut "anak yang tak peduli orang tua"., sama sekali tidak mau, bu.

Bu, sekarang semua mahal, mulai dari nasi rames smpe ongkos yang kemarin jauh dekat cuma seribu, sekarang naik, bu. Bu itu presiden kita bukan ? kok jahat banget ? tega memisahkan aku dengan mu, bu.

Aku paham betul kondisi ibu saat ini, ibu pasti sedih tak pernah melihatku pulang meski yang lain libur. Bu harga beras saat ini berapa ? harga bawang ? cabe ? kangkung ? merangkak naik ya bu ?. aduhh sungguh aku tak tega meliaht ibu berdebat dengan pedagang sayur itu gara-gara haga naik meski hanya seperak...

Bu, aku masih tetap yang dulu kok, yahhh mungkin ada sedikit rombakan dalm pemahaman ideologiku. Tapi jangan khawatir aku masih berada di jalur yang aman masih dibingkai keimanan. Aku bersyukur berada di lingkungan yang membuatku nyaman dan tentram.

Mungkin ini celotehanku yang meronta untuk pulang. :)


                                                             

                                                                                                         Semarang, 27 Juni 2013


                                                                                                                   Rina Meirina