Belum
tercerna penafsiran dari kalimat ini “ Islamic Solidarity Games”. Bukan saya
tak mengerti makna antar kata pada kalimat yang saya anggap wagu pada kalimat pembuka tulisan ini.
Sederhana saja, terbersit arti dalam ingatan hanya kata “solidarity” yang berarti senasib sepenanggungan, bukankah sangat
luas jika pengaplikasian kata itu kita sematakan pada pribadi muslim yang jelas
akan membangun kesatuan umat Islam yang terkotak-kotak ini. Atau bahkan itu
hanya dijadikan teori yang nantinya akan terintegralkan pada generasi di
bawahanya.
Malam
ini saya menyaksikan hiruk – pikuk penutupan dari acara ini, luar biasa
menggema kemeriahannya. Berapa anggaran Negara yang bocor hanya untuk mendanai
acara yang katanya akan meningkatan “kesolidan”
ini ? Ahh…saya tak paham betul. Sepertinya tak ada transparansi dalam hal ini.
Memang saya tertinggal dalam pembukaan
acara ini, hingga tersamar tujuan dari penyelenggaraan acara tersebut. Adakah
terselip satu tujuan untuk kesatuan umat dalam melanjutkan kehidupan Islam
kembali dan menerapkannya secara kaffah
? Atau ini hanya ajang pertandingan parallel yang tak ada bedanya dengan
pertandingan-pertandingan lain, ohh..mungkin yang berbeda hanya tema dari
acaranya saja.ya, bisa jadi. Sudahlah…
Coba
tengok dibelahan bumi sana !!! mereka merengek, tercekik, berduel dengan si
moncong tank baja. Beradu cepat dengan senapan, tersandung waktu nyawa
taruhannya. Mereka tergelepar, adakah P3K yang sigap menghampirinya. Mereka
mati, tak ada wasit yang meniup pluit untuk menghentikannya dan memberikannya
kartu merah. Waktu tak membatasi kaum zionis untuk memborbardir mereka, berbeda
dengan ini yang terbatasi waktu.
Bandingkan
dengan penyelenggaraan acara ini, dimana letak kesolidan yang dianggap tujuan
utama dari acara terebut.
Penonton
bersorak-sorai tatkala tim unggulannya dapat menjebol gawang musuhnya. Tak
heran mereka yang duduk berdampingan berubah menjadi tuding-tudingan hanya
karena timnya tak sengaja menyikut tim lawan. Terus dimana posisi “kesolidan” itu bersembunyi kawan ?
Sederhana
saja, lantas perlukah penyelenggaraan ini tumbuh nantinya tanpa jelas tujuan
nyata untuk setiap muslim di seluruh belahan dunia ?
Semarang, 1 Oktober 2013



0 komentar:
Posting Komentar