Selasa, 22 Oktober 2013

Tertinggal

Aku bertanya kepada mereka yang tak sejalan, tertikam dalam hantaman jawaban itu. Mencoba croosing, sirkulasiku terjebak, berpura pada peraduan yang mereka lontar. Aku tangkap apa yang mereka lempar, sayang ini tak masuk akal, masih ragu dan tetap aku anggap wagu ucapannya itu. Mengumpat terus pada tameng yang ku siapkan tiap dua setengah jam dalam seminggu. Dia terus menghirupkan seberkas cahaya padaku. hampir mati, Dia terus memberikan enjeksi, hingga aku segar kembali.



Sore itu, aku tak melihat sosoknya. hingga radar tak mampu terpancar. Dimana dia ? Ku tengok, tak kutemui dia disana. Ayunan kaki terus tertuju pada bangku berwarna coklat tua itu, biasanya dia duduk disana stay cool dengan komputernya, hari itu aku tak mendapatinya. Ku tengok lagi penuh harap, benar-benar tak ada dia disana. lantas dimana dia ?

Sebuah harapan yang benar-benar harus aku kubur dalam-dalam, lipat hingga tak terlihat, lantas aku buang semua itu.

Kau terus berjalan di depanku, sampai aku tertinggal jauh di belakangmu. satu demi satu anak tangga kau naiki, perhatianku terus tertuju padamu, meski hanya di belakangmu. Nampaknya kau nyaman berjalan sendiri tanpa ada teman disampingmu.

Sial, aku terjatuh terlewat satu anak tangga. hilang pandangan yang terus aku pantengi di depan itu, kemana dia ?

Dia hilang, dan aku tertinggal jauh di belakangmu. belokan itu telah memisahkan kita, mungkin kau nyaman berjalan sendiri tanpa ada yang kau tungggu ketika telat dalam langkah.

Hari itu, aku memutuskan untuk tak mencarinmu. dan membulatkan tekad agar aku lupa pada dia, yaahh.. orang yang meninggalkan langkahku. Semoga kau tak berbelok arah, tetaplah jalan lurus. Aku tunggu kau di ujung sana.

0 komentar:

Posting Komentar