Sabtu, 05 April 2014

Melek dong !!!

Kita yang sekarang masih melek pastinya tahu bahwa di sekitar kita masih terlalu banyak orang yang membutuuhkan uluran tangan kita, dan butuh solusi praktis, seketika. Banyak permasalahan yang nampak di sekitar kita yang bermuara pada masalah kemiskinan. Solusi kepada syari'ah dan khilafah untuk mengatasi ini semua bagi sebagian mereka masih merupakan solusi yang utopis untuk diwujudkan. Pun kita tahu, kemiskinan di negeri yang kaya ini, bukanlah kehendak alam. Namun adalah kemiskinan yang terstruktur dan lebih tepat dibilang pemiskinan. Kelas-kelas masyarakat seakan dikekalkan.Jurang pemisah antara yang kaya dan si miskin masih menganga lebar. Masih tetap ada kaum borjuis dan kaum proletar.

Pun aku, kamu, dan mereka, kita semua sudah terlalu jengah melihat dan merasakan semua kesulitan hidup. Lagi-lagi dan lagi berujung pada masalah perut. Terlalu banyak orang yang telah melihat segala kemunafikan sistemik yang melanda negeri yang seharusnya bisa menyejahterakan semua rakyatnya ini. Negeri yang seharusnya tidak salah urus. Kondisi yang rusak diperparah lagi oleh para pemegang amanah yang mengkhianati rakyat. Layar panggung sandiwara di negeri ini tanpa basa-basi dibuka tutup secara musiman. Sudah terlalu banyak aktor yang sukses membuat rakyat terkagum-kagum, bahkan membuat rakyat menangis berdarah-darah. Luar biasa bukan ? Sampai-sampai pemain film peraih piala citra saja bagai seujung jari, tidak ada apa-apanya. Hebat kan ? Tidak banyak yang sadar kalau sekulerisme adalah biang dari kemelaratan negeri ini. Sekulerisme yang menjadi biang keladi, memisahkan kehidupan kita di dunia dengan kehidupan selanjutnya di akhirat. Dan semakin meradang saja kondisi negeri kita ini. PARAH !

Selasa, 01 April 2014

Berani Karena Ideologi

Nafas ideologi itu perlahan tapi pasti, terasa menghujam kuat dalam jiwa. Dengan segala rasa minder dan kepengecutan saya diwaktu kecil hingga remaja, sungguh menjadikan saya tak mudah untuk bersosialisasi  dengan banyak pihak ketika dewasa kini. Namun, satu dorongan kuat akhirnya menguatkan dan meyakinkan saya, pasti bisa keluar dari zona yang mengkerangkeng itu. Dan dorongan akan keberanian itu, sepenuhnya lahir karena landasan ideologi yang terbangun sejak saya duduk dibangku kuliah.

Lebih dari itu, dorongan ideologi telah meniscayakan untuk berani melakukan suatu perubahan. Jika menolak, ideologi itu akan membisiki bahwa saya mampu melakukannya. Allah akan membantu saya. Jika saya masih merasa minder dan malu, maka karena ideologi pula akhirnya saya berpikir bahwa ini bukan tempat yang tepat untuk meletakan rasa malu. Malu itu, semestinya ketika kita berani melabrak aturan-aturanNya. Bukan justru saat harus menyeru manusia untuk kembali pada aturanNya.

Akhirnya, perlahn-lahan, karena dorongan ideologi Islam yang agung, saya mulai berani berhadapan dengan orang yang bergelar tinggi, status sosial tingi dan lainnya. Meski memang hanya menjadi bemper, tapi tak masalah. Karena justru dari sinilah ternyata saya bisa belajar untuk lebih dewasa, dan ini kadang-kadang membuat saya berpikir bahwa mungkin tidak selamanya saya akan berhadapan dengan remaja atau mahasiswa. Akan ada saatnya kelak, barangkali takdir akan mengantar saya untuk berhadapan dengan tokoh besar, hebat, terkenal, dll. (siapa taukan ,haha ). bagi orang lain mungkin ini hal sepele karena mudah untuk melakukannya. tapi bagi saya ini merupakan anugrah yang sangat besar. Dan saya harus menghargainya, setidaknya dengan berusaha mempersembahkan yang terbaik untuk ideologi ini, yang telah menjadikan saya lebih berani. :)