Kita
yang sekarang masih melek pastinya tahu bahwa di sekitar kita masih
terlalu banyak orang yang membutuuhkan uluran tangan kita, dan butuh
solusi praktis, seketika. Banyak permasalahan yang nampak di sekitar
kita yang bermuara pada masalah kemiskinan. Solusi kepada syari'ah dan
khilafah untuk mengatasi ini semua bagi sebagian mereka masih merupakan
solusi yang utopis untuk diwujudkan. Pun kita tahu,
kemiskinan di negeri yang kaya ini, bukanlah kehendak alam. Namun
adalah kemiskinan yang terstruktur dan lebih tepat dibilang pemiskinan.
Kelas-kelas masyarakat seakan dikekalkan.Jurang pemisah antara yang kaya
dan si miskin masih menganga lebar. Masih tetap ada kaum borjuis dan
kaum proletar.
Pun aku, kamu, dan mereka, kita semua sudah
terlalu jengah melihat dan merasakan semua kesulitan hidup. Lagi-lagi
dan lagi berujung pada masalah perut. Terlalu banyak orang yang telah
melihat segala kemunafikan sistemik yang melanda negeri yang seharusnya
bisa menyejahterakan semua rakyatnya ini. Negeri yang seharusnya tidak
salah urus. Kondisi yang rusak diperparah lagi oleh para pemegang amanah
yang mengkhianati rakyat. Layar panggung sandiwara di negeri ini tanpa
basa-basi dibuka tutup secara musiman. Sudah terlalu banyak aktor yang
sukses membuat rakyat terkagum-kagum, bahkan membuat rakyat menangis
berdarah-darah. Luar biasa bukan ? Sampai-sampai pemain film peraih
piala citra saja bagai seujung jari, tidak ada apa-apanya. Hebat kan ?
Tidak banyak yang sadar kalau sekulerisme adalah biang dari kemelaratan
negeri ini. Sekulerisme yang menjadi biang keladi, memisahkan kehidupan
kita di dunia dengan kehidupan selanjutnya di akhirat. Dan semakin
meradang saja kondisi negeri kita ini. PARAH !
9 tahun yang lalu



0 komentar:
Posting Komentar