Nafas ideologi itu perlahan
tapi pasti, terasa menghujam kuat dalam jiwa. Dengan segala rasa minder
dan kepengecutan saya diwaktu kecil hingga remaja, sungguh menjadikan
saya tak mudah untuk bersosialisasi dengan banyak pihak ketika dewasa
kini. Namun, satu dorongan kuat akhirnya menguatkan dan meyakinkan saya,
pasti bisa keluar dari zona yang mengkerangkeng itu. Dan dorongan akan
keberanian itu, sepenuhnya lahir karena landasan ideologi yang terbangun
sejak saya duduk dibangku kuliah.
Lebih dari itu, dorongan ideologi telah meniscayakan untuk berani melakukan suatu perubahan. Jika menolak, ideologi itu akan membisiki bahwa saya mampu melakukannya. Allah akan membantu saya. Jika saya masih merasa minder dan malu, maka karena ideologi pula akhirnya saya berpikir bahwa ini bukan tempat yang tepat untuk meletakan rasa malu. Malu itu, semestinya ketika kita berani melabrak aturan-aturanNya. Bukan justru saat harus menyeru manusia untuk kembali pada aturanNya.
Akhirnya, perlahn-lahan, karena dorongan ideologi Islam yang agung, saya mulai berani berhadapan dengan orang yang bergelar tinggi, status sosial tingi dan lainnya. Meski memang hanya menjadi bemper, tapi tak masalah. Karena justru dari sinilah ternyata saya bisa belajar untuk lebih dewasa, dan ini kadang-kadang membuat saya berpikir bahwa mungkin tidak selamanya saya akan berhadapan dengan remaja atau mahasiswa. Akan ada saatnya kelak, barangkali takdir akan mengantar saya untuk berhadapan dengan tokoh besar, hebat, terkenal, dll. (siapa taukan ,haha ). bagi orang lain mungkin ini hal sepele karena mudah untuk melakukannya. tapi bagi saya ini merupakan anugrah yang sangat besar. Dan saya harus menghargainya, setidaknya dengan berusaha mempersembahkan yang terbaik untuk ideologi ini, yang telah menjadikan saya lebih berani. :)
Lebih dari itu, dorongan ideologi telah meniscayakan untuk berani melakukan suatu perubahan. Jika menolak, ideologi itu akan membisiki bahwa saya mampu melakukannya. Allah akan membantu saya. Jika saya masih merasa minder dan malu, maka karena ideologi pula akhirnya saya berpikir bahwa ini bukan tempat yang tepat untuk meletakan rasa malu. Malu itu, semestinya ketika kita berani melabrak aturan-aturanNya. Bukan justru saat harus menyeru manusia untuk kembali pada aturanNya.
Akhirnya, perlahn-lahan, karena dorongan ideologi Islam yang agung, saya mulai berani berhadapan dengan orang yang bergelar tinggi, status sosial tingi dan lainnya. Meski memang hanya menjadi bemper, tapi tak masalah. Karena justru dari sinilah ternyata saya bisa belajar untuk lebih dewasa, dan ini kadang-kadang membuat saya berpikir bahwa mungkin tidak selamanya saya akan berhadapan dengan remaja atau mahasiswa. Akan ada saatnya kelak, barangkali takdir akan mengantar saya untuk berhadapan dengan tokoh besar, hebat, terkenal, dll. (siapa taukan ,haha ). bagi orang lain mungkin ini hal sepele karena mudah untuk melakukannya. tapi bagi saya ini merupakan anugrah yang sangat besar. Dan saya harus menghargainya, setidaknya dengan berusaha mempersembahkan yang terbaik untuk ideologi ini, yang telah menjadikan saya lebih berani. :)



0 komentar:
Posting Komentar