Senin, 08 September 2014

Tentang Perjalanan

Ini sebuah mimpi yang masih mengawang, ya sebuah  mimpi untuk mewujudkan peradaban islam dalam ruang lingkup arsitektur dan perencanaan wilayah dan kota. Aku yakin, suatu desain mampu membentuk perilaku masyarakat yang ada di sekitarnya. Oleh karena itu, peninggalan kejayaan Islam di masa lalu, perlu kita pelajari agar peradaban Islam dapat kembali kita wujudkan.

Berbicara tentang perjalanan, aku langsung teringat akan konsep hidup ini. Ya, hidup ini adalah suatu perjalanan, bukan tujuan sebenarnya. Aku menyukai perjalanan, karena bagiku, perjalanan itu sungguh mengasyikan. Menikmati sebuah perjalanan memiliki banyak manfaat, walaupun biasanya hal tersebut tanpa kusadari telah kurasakan. Dalam masa yang panjang dalam mengarungi suatu perjalanan, ada sebuah perenungan yang dapat kulakukan.



Aku membayangkan sebuah perjalanan jauh, lagi panjang, sukar, dan mendaki, yang ujungnya belum pernah kukunjungi tetapi berita mengenainya sungguh telah memacu semangatku untuk menggapainya. Jalanan yang sempit, terik, diselingi badai, duri, dan berkelok. Namun, kuyakin bahwa di ujung jalan ini ada Yang Mahaindah di Tempat yang terindah sedang menunggu. Begitulah seharusnya kita memaknai hidup. Tak selamanya jalan hidup tanpa hambatan. Ada ujian yang datang melanda, ada perangkap menunggu mangsa. Perlu kita sadari bahwa jalan kebenaran, selalu dikelilingi oleh hal-hal yang tidak menyenangkan. Oleh karena itu, mengharapkan sebuah kesenangan dalam perjuangan untuk menggapai cita, tiada beda dengan merindu rembulan di tengah siang.

Ternyata, halangan yang menyapa di jalan tidak hanya berupa hal-hal yang tidak menyenangkan, tetapi juga hal-hal yang menyenangkan. Hanya saja, hal-hal yang menyenangkan tersebut justru melenakan dan membuat kita lupa akan tujuan di awal perjalanan, sehingga bisa saja tersesat.

Dalam perjalanan inilah tempatnya menikmati setiap jenak-jenak langkah. Memang melelahkan, namun aku akan mengumpulkan lelah-lelah itu untuk dijadikan energi baru dalam menyongsong perjalanan selanjutnya. Tak memperdulikan rasa jenuh dalam menghadapi tantangan dan ujian hidup, tetapi tetap melaju menuju impian. Asalkan sungguh-sungguh, pastinya akan ada jalan keluar menuju kesana dan itu akan datang dari arah yang tidak disangka-sangka.

Perjalanan pun berlanjut. Tak peduli waktu apa yang berjalan dan musim apa yang berganti. Yang pasti, aku sudah tak sabar untuk segera tercapai mimpi-mimpi yang dirajut sebelum perjalanan. Ada rindu yang terselip diantara peluh ini. Ada semangat yang membuncah dalam dada untuk memenuhi dahaga kerinduan ini.

Ya, pertemuan dengan Yang Mahaindah itu.

Perjalanan ini membutuhkan kesabaran yang tinggi agar perjalanan ini menjadikan kita seorang yang beruntung. Seperti yang difirmankan oleh Allah:

“Hai orang-orang yang beriman, bersabarlah kamu dan kuatkanlah kesabaranmu dan tetaplah bersiap siaga (di perbatasan negerimu) dan bertakwalah kepada Allah, supaya kamu beruntung.” (TQS. ‘Ali Imran: 200)

Ya, karena Tiada kemuliaan tanpa kesungguhan dan tiada istirahat bagi seorang mukmin kecuali di surga. Laa izzata illa bil jihad, laa rohata lil mu’miniina illa fil jannah! Allahu Akbar!!!

0 komentar:

Posting Komentar