Ini sebuah mimpi yang masih mengawang, ya sebuah mimpi untuk mewujudkan peradaban islam dalam
ruang lingkup arsitektur dan perencanaan wilayah dan kota. Aku yakin, suatu
desain mampu membentuk perilaku masyarakat yang ada di sekitarnya. Oleh karena
itu, peninggalan kejayaan Islam di masa lalu, perlu kita pelajari agar
peradaban Islam dapat kembali kita wujudkan.
Berbicara tentang
perjalanan, aku langsung teringat akan konsep hidup ini. Ya, hidup ini adalah
suatu perjalanan, bukan tujuan sebenarnya. Aku menyukai perjalanan, karena
bagiku, perjalanan itu sungguh mengasyikan. Menikmati sebuah perjalanan
memiliki banyak manfaat, walaupun biasanya hal tersebut tanpa kusadari telah
kurasakan. Dalam masa yang panjang dalam mengarungi suatu perjalanan, ada
sebuah perenungan yang dapat kulakukan.
Aku membayangkan
sebuah perjalanan jauh, lagi panjang, sukar, dan mendaki, yang ujungnya belum
pernah kukunjungi tetapi berita mengenainya sungguh telah memacu semangatku
untuk menggapainya. Jalanan yang sempit, terik, diselingi badai, duri, dan
berkelok. Namun, kuyakin bahwa di ujung jalan ini ada Yang Mahaindah di Tempat
yang terindah sedang menunggu. Begitulah seharusnya kita memaknai hidup. Tak
selamanya jalan hidup tanpa hambatan. Ada ujian yang datang melanda, ada
perangkap menunggu mangsa. Perlu kita sadari bahwa jalan kebenaran, selalu
dikelilingi oleh hal-hal yang tidak menyenangkan. Oleh karena itu, mengharapkan
sebuah kesenangan dalam perjuangan untuk menggapai cita, tiada beda dengan
merindu rembulan di tengah siang.
Ternyata,
halangan yang menyapa di jalan tidak hanya berupa hal-hal yang tidak
menyenangkan, tetapi juga hal-hal yang menyenangkan. Hanya saja, hal-hal yang
menyenangkan tersebut justru melenakan dan membuat kita lupa akan tujuan di
awal perjalanan, sehingga bisa saja tersesat.
Dalam perjalanan
inilah tempatnya menikmati setiap jenak-jenak langkah. Memang melelahkan, namun
aku akan mengumpulkan lelah-lelah itu untuk dijadikan energi baru dalam
menyongsong perjalanan selanjutnya. Tak memperdulikan rasa jenuh dalam
menghadapi tantangan dan ujian hidup, tetapi tetap melaju menuju impian.
Asalkan sungguh-sungguh, pastinya akan ada jalan keluar menuju kesana dan itu
akan datang dari arah yang tidak disangka-sangka.
Perjalanan pun
berlanjut. Tak peduli waktu apa yang berjalan dan musim apa yang berganti. Yang
pasti, aku sudah tak sabar untuk segera tercapai mimpi-mimpi yang dirajut
sebelum perjalanan. Ada rindu yang terselip diantara peluh ini. Ada semangat
yang membuncah dalam dada untuk memenuhi dahaga kerinduan ini.
Ya, pertemuan
dengan Yang Mahaindah itu.
Perjalanan ini
membutuhkan kesabaran yang tinggi agar perjalanan ini menjadikan kita seorang
yang beruntung. Seperti yang difirmankan oleh Allah:
“Hai orang-orang yang beriman,
bersabarlah kamu dan kuatkanlah kesabaranmu dan tetaplah bersiap siaga (di
perbatasan negerimu) dan bertakwalah kepada Allah, supaya kamu beruntung.” (TQS.
‘Ali Imran: 200)
Ya, karena Tiada kemuliaan tanpa kesungguhan dan tiada
istirahat bagi seorang mukmin kecuali di surga. Laa izzata illa bil jihad, laa
rohata lil mu’miniina illa fil jannah! Allahu
Akbar!!!



0 komentar:
Posting Komentar