Selasa, 10 Desember 2013

Saat Hidup Hanya Memberiku Dua Pilihan


            Ada harga yang harus kita bayar untuk setiap keputusan dan pilihan. Mahal atau murahnya harga itu tergantung pada hasil kalkulasi “ untung rugi ‘’ kita dan orientasi hidup mana yang kita ambil. Kita mau orientasi hidup yang segelas, maka itulah yang akan kita dapat. Risikonya pun hanya akan segelas. Kita mau tujuan hidup yang sebesar gunung, makan itulah yang akan kita hadapi beserta risikonya yang sebesar gunung pula.
            Prinsip high risk high return akan selalu hadir dalam setiap pilihan kita. Ayaknya bisnis investasi, hukumnya sangat simple : mau profit besar, tentu ada risiko besar membentang. Mau laba kecil, risikonya pun juga kecil. Mau cepat kaya, mainlah saham atau indeks. Tapi anda bisa kere seketika karenanya jika anda salah langkah. Mau aman-aman saja, cukuplah main deposito, tapi kapan anda akan kaya mendadak ?
            Lhah, itulah risiko setiap pilihan hidup.
            Yang aku tahu pasti adalah bahwa jika aku ingin hidup yang besar, maka aku harus menantang risiko besar. Aku tidak akan pernah jadi siapa-siapa jika aku tidak berani menghadapi tantangan dan risiko berat untuk menjadi siapa-siapa. Aku ingat betul teori Madness and Cicilization-nya Michael Foucault yang konon homoseksual itu bahwa kegilaan akan menghadirkan sebuah peradaban baru, kondisi baru, teman baru, kehebatan baru,. Kegilaan adalah pangkal dari perubahan ! dengan kata lain, maaf ya, aku sepakat dengan pemikiran Foucault dalam konteks ini, jika kita ingin menjadi berbeda, kita harus berbuat berbeda. Jika kita ingin hebat, maka kita harus menabrak pilar-pilar kebiasaan, tradisi, kecenderungan, karena hanya dengan cara demikianah kita akan meahirkan “ peradaban” bagi hidup kita, setidaknya. Berbuat gilalah, maka anda akan berbeda !
            Foucault benar jika teorinya itu diterapkan pada terbentuknya peradaban Islam yang dibawa Nabi Muhamad SAW , misalnya. Keberanian beliau untuk melawan langgam tradisi dan keyakinan masyarakat Quraisy, yang menyebaban beliau diusir, dicaci, mau dibunuh, dilempar kotoran, atau disebut gilalah, yang justru menjadikan nama beliau besar dan hebat bersama Islam. Andai beliau tidak melawan tradisi masa itu, bersikap biasa saja, “ tidak gila “, niscaya peradaban Islam ini tidak akan pernah ada.
            Ini terjadi pada semua peradaban. Abraham Lincoln pun begitu. Napoleon onaparte ppun begitu. Salahuddin al-Ayyubi pun begitu. Rabi’ah a-Adawiyyah pun begitu. Mahatmah Gandhi pun begitu. Akhiles pun begitu. Ajisaka pun begitu. So-sha pun begitu. Sukarno pun begitu. Mario Tegh pun begitu. Semua hero bukanlah orang yang belaku kecil, tapi sangat besar, gila bahkan ! So, do something different, something crazy, take the risk, you will become different as you wish ! itulah rumusnya.
            Aku sudah mengatakan berkali-kali pada temanku yang berkeluh kesah tentang posesivitas kekasihnya itu bahwa kekasihnya itu bukanlah yang terbaik baginya. “ kamu bukanlah tipe wanita rumahan. Kamu tipe wanita public, berhubungan dengan banyak orang, berkakier. Maka, bayangkan bagaimana kamu bisa eksis dan bebas berkreasi jika pasanganmu adalah orang yang selalu curiga padamu, perlu selalu tahu dimana kamu berada , harus men-3G-mu anytime, mengecek HPmu ketika bertemu.
            Kita merasa lebih nyaman untuk hidup tidak nyaman hari ini dibanding hidup penuh risiko dan rekoso hari ini untuk kenyamanan besar, kebahagiaan besar, di masa yang akan datang. Kita lebih suka memilih kebahagiaan sekejap ketimbang kebahagian jangka panjang.
            Coba deh renungkan apa pun yang telah anda lakukan saat hidup hanya menyuguhkan dua menu pilihan di meja jiwa anda, X dan Y saat kita berada dalam posisi harus memilih begitu, pastilah yang kita lakukan pertama kali adalah menimbang plus minus masing-masing pilihan itu. Apa untungnya jika memilih X atau sebaliknya. Celakanya, mayoritas kita “ terbiasa” dengan sadar memilih menggunakan hierarki “ mana yang risikonya paling kecil kendati artinya sangat kecil”, bukan “ mana yang paling besar, meskipun dengan risiko yang lebih besar pula.” Inilah yag mendominasi hati dan pikiran kita saat harus memilih.
           

0 komentar:

Posting Komentar