Pergerakan
ini tak semulus ketika aku memepetkan dua buah rotering sehingga menghasilkan
sudutan 90derajat, penuh cekalan disana-sini, banyak setan yang berlaku sinis
padaku, bahkan ketika aku baru mengayunkan selangkah kaki, cekalan jelas di
depan mata. Pandangan kabur seketika, aku kalah dalam pergerakan ini.
Terjal, sangat-sangat terjal jalan yang aku telusuri. Sama terjalnya
ketika aku menganalisis sebuah tapak, banyak lapisan yang harus ditembus sampai
mendapatkan lapisan tanah asli, menentukan sebuah kontur yang terus tercekal
elevasi satu kontur dengan kontur yang lain. Begitu pun dalam pergerakan yang
aku lakukan, grasak-grusuk menyelinap masuk lembaga-lembaga demi menyampaika
apa yang aku anggap benar. Belum lama mulutku berucap, sudah tersumpal dengan
pendapat yang mereka yakini kebenarannya. Dan untuk yang kedua kalinya
pergerakanku tercekal. Aku mencoba bergerak keluar dari zona itu, mencoba
berbaur dengan individu-individu yang tak peka dengan hal ini, mencoba
menyampaikan opini-opini islam, baik itu dalam bentuk selebaran-selebaran
maupun berdiskusi peace to peace dengan mereka. Dan apa yang aku dapat ? selebaran
itu mereka anggap hanya kertas lusuh tak ada arti, mereka mengacuhkanku, mereka
apatis, membutakan mata dan menulikan telingaya. Sekalinya aku mendapatkan
respon dalam diskusi itu, mereka mengajak debat kusir. Ini yang membuat aku
benci ketika bergerak keluar. Aku lemah dalam hal ini.
Pernah ketika aku memasuki sebuah tempat perbelanjaan ada
seseorang yang nyinyir padaku, dia bilang aku sesat, te*****. Hanya karena aku
berpakaian seperti ini hitam-hitam dengan bagpack berlafadzkan laillahailallah.
Ada yang salah ?
Ya Allah permudah aku dalam pergerakan ini, bukankah ini
semata-mata untuk mengagungkan-Mu.
Semarang,
29 Nopember 2013
Rina Mei



0 komentar:
Posting Komentar