Gara-gara dituduh mencuri empat batang tebu dan setandan pisang, dua
anak di bawah umur di Banyuwangi dipaksa bercampur dengan tahanan dewasa.
Miris. Angka tindak kiminalitas yang melibatkan anak-anak di berbagai daerah di Indonesia melonjak tajam. Komnas Perlindungn Anak mencatat kasus kriminalitas tersebut meliputi pencurian, tawuran dan pelecehan seksual yang dilakukan siswa SD hingga SMA. Bahkan setiap tahunnya angka ini semakin meningkat. Ironisnya, yang mengalami kecenderungan meningkat adalah jumlah kasus tindak pidana asusila seperti persetubuhan anak di bawah umur.
Tawuran antar pelajar menjadi bagian yang tak terpisahkan dari perilaku kaum akademisi. Banyak korban tewas, "perang kolosal" ini terus terjadi. Dari fakta yang terjadi, tampak tidak hanya kuantitas kejahatan yang terus meningkat. Jenis kejahatan pun semakin beragam dan semakin tinggi angka kejahatannya. Jika dulu kasus pencurian sandal, sekarang sudah sampai pada pencurian barang-barang elektronik, bahkan motor. Yang sangat menyedihkan lagi, sebagian mereka yang masih di bawah umur sudah melakukan kejahatan seksual. Ironis.....
Lantas siapa yang salah ?
Yang paling dominan dalam kasus kriminalitas yang melibatkan anak-anak adalah pengaruh dari arus globalisasi dan komersialisasi. Kini anak-anak mudah terpengaruh, ingin mengakses informasi lewat internet, ingin mempunyai handphone biar tambah gaul, atau ingin mempunyai motor biar dikatakan kece. Namun, terkadang dari sisi ekonomi orang tua mereka tidak mampu untuk mengaplikasikan keinginan yang bejibun dari anak mereka. Kondisi ini yang mendorong anak tersebut nekat untuk mendapatkan sesuatu dengan cepat "kata kerennya instan" (padahal tidak ada sesuatu yang tanpa proses, pop mie aja nunggu tiga menit biar bisa ngembang).
Menurut Ketua Komnas Perlindungan Anak penyebab adalah imitasi anak atas segala tindakan kekerasan yang mereka lihat dan faktor pelepasan ekspresi yang tersumbat. (bukan hanya got yang tersumbat, ekspresi juga bisa). Sebagian anak cenderung meniru apa yang dia lihat dan rasakan. Mereka sering menyaksikan adegan kekerasan sehingga berprilaku seperti itu juga. Sebagian anak meniru adegan kekerasan dari tayangan televisi. Jika kita telusuri, kerusakan dan kemiskinan moral memang menjadi pemicu munculnya seabreg kejahatan pada anak. Akan tetapi kemiskinan dan kerusakan moral sesungguhnya hanya merupakan akibat. Faktanya, kesenjangan ekonomi dan kemiskinan serta kerusakan moral banyak terjadi di negara-negara yang menerapkan sistem kapitalis-liberal, termasuk Indonesia raya ini.
Kapitalisme umumnya disertai saudara kembarnya, liberalisme dan sekuralisme. Pemisahan agama dari kehidupan akan mencabut nilai-nilai moral. Ditambah lagi dengan kebebasan berprilaku, norma agama semakin terpinggirkan. Padahal kekuatan ruhiah yang lahir dari pemahan terhadap agama adalah satu-satunya motor penggerak penerapan moral.
Nah ini, Mengatasi Kejahatan Anak ^_^
Berbeda dengan sistem sekuler-kapitalis, Islam yang menjadikan akidah islam, La Ilahaillallah Muhammad Rasulullah sebagai asas dan dasar syariah Islam sebagai pijakannya memiliki aturan yang sangat rinci dan sempurna, mencakup seluruh aspek kehidupan. Dengan sistem ynag lahir dari Zat yang Mahasempurna dan Mahatau atas ciptaan-Nya, seluruh persoalan yang di hadapi makhluknya dalam kondisi apapun dapat diselesaikan dengan memuaskan. Tanpa ada pihak manapun yang dirugikan.
Islam juga mewajibkan negara untuk menjamin anak memperoleh pendidikan bekualitas dengan mudah. Islam mewajibkan negara untuk menjamin setiap warganegara dapat memenuhi kebutuhan hidupnya seperti makan, pakaian, tempat tinggal dan kesehatan.



0 komentar:
Posting Komentar