Kamis, 12 September 2013

METAMORPHOSIS


Hanya Metamorfosis yang membuatnya telanjang, yang mengalihkan pandangan. Sebuah revolusi yang menjadikan inovasi ini berlanjut tak berkutik. 



Ah, sial perubahan ini tak tuntas. Terhenti tak ada arti, menyisakan titik-titik  tanpa ada kepastian yang menjadikan garis. Memang perubahan yang hakiki berasal dari kedalaman hati yang murni, bukan untuk mereka yang dangkal dalam proses penyelaman jati diri. Terbuai dengan haluan yang tak semestinya patut untuk dijabarkan, berlaga cuek sepertinya itu akan membuat mereka mahal, hingga nilai tukar pun pasti akan tercekal. Sebuah ironi memang, tatkala revolusi tak menjadikannya kupu-kupu “skak mat” mungkin itu kata yang terlempar untuk si kepompong. Pada kondisi ini, bahkan mereka menyebutnya hibernasi, entah apa yang salah dalam proses metamorphosis ini. Tanpa sadar dia mulai terlelap, pulas, terhempas ke nirwana sana.

Takut, metamorphosis semakin berat. Kerikil terus melirik sinis pada proses ini, bahkan insting tak mampu teradarkan. Hanya hembusan angin yang mampu membawanya hilang, terbang, dan pada titik ini ia berdiri, sepi, sendiri, menanti, mati.

Sungguh dalam hal ini mereka paham betul sudut pandang yang berlalu tatkala metamorphosis memanggil masa lalu. Sinis saja, untuk mereka yang terbagi dalam kotak-kotak masa itu. Hingga akhirnya terurai dan mencair. Disinilah masa lalu dikatakan fatamorgana mencekikakn, bukan masalah melirik pada masa lalu, tapi bagaimana sebuah pengalaman itu dapat dijadikan sebuah acuan perubahan. Memang untuk mendapatkan hasil sempurna kita butuh proses, bahkan mie instan pun butuh waktu 3 menit agar ia mengembang, begitu pula dalam hidup.

So, pelajari masa lalumu. Jika memang itu baik, ambillah !! terapkan dalam metamorphosismu kini.



                                                                                Semarang, 13 September 2013


                                                                                                 Meirina

0 komentar:

Posting Komentar