Hanya
Metamorfosis yang membuatnya telanjang, yang mengalihkan pandangan. Sebuah
revolusi yang menjadikan inovasi ini berlanjut tak berkutik.
Ah,
sial perubahan ini tak tuntas. Terhenti tak ada arti, menyisakan titik-titik tanpa ada kepastian yang menjadikan garis.
Memang perubahan yang hakiki berasal dari kedalaman hati yang murni, bukan
untuk mereka yang dangkal dalam proses penyelaman jati diri. Terbuai dengan
haluan yang tak semestinya patut untuk dijabarkan, berlaga cuek sepertinya itu
akan membuat mereka mahal, hingga nilai tukar pun pasti akan tercekal. Sebuah ironi
memang, tatkala revolusi tak menjadikannya kupu-kupu “skak mat” mungkin itu
kata yang terlempar untuk si kepompong. Pada kondisi ini, bahkan mereka
menyebutnya hibernasi, entah apa yang salah dalam proses metamorphosis ini. Tanpa
sadar dia mulai terlelap, pulas, terhempas ke nirwana sana.
Takut,
metamorphosis semakin berat. Kerikil terus melirik sinis pada proses ini,
bahkan insting tak mampu teradarkan. Hanya hembusan angin yang mampu membawanya
hilang, terbang, dan pada titik ini ia berdiri, sepi, sendiri, menanti, mati.
Sungguh
dalam hal ini mereka paham betul sudut pandang yang berlalu tatkala metamorphosis
memanggil masa lalu. Sinis saja, untuk mereka yang terbagi dalam kotak-kotak
masa itu. Hingga akhirnya terurai dan mencair. Disinilah masa lalu dikatakan
fatamorgana mencekikakn, bukan masalah melirik pada masa lalu, tapi bagaimana
sebuah pengalaman itu dapat dijadikan sebuah acuan perubahan. Memang untuk
mendapatkan hasil sempurna kita butuh proses, bahkan mie instan pun butuh waktu
3 menit agar ia mengembang, begitu pula dalam hidup.
So,
pelajari masa lalumu. Jika memang itu baik, ambillah !! terapkan dalam metamorphosismu
kini.
Semarang, 13 September 2013
Meirina



0 komentar:
Posting Komentar