PT Freeport Indonesia merupakan sebuah
perusahaan afiliasi dari Freeport-McMoRan
Copper & Gold Inc.. PT Freeport Indonesia menambang, memproses
dan melakukan eksplorasi terhadap bijih yang mengandung tembaga, emas, dan
perak. Beroperasi di daerah dataran tinggi di Kabupaten Mimika Provinsi Papua,
Indonesia. Freeport Indonesia memasarkan konsentrat yang mengandung tembaga,
emas dan perak ke seluruh penjuru dunia.
Sejarah
kontrak karya
1936 – Jacques Dozy menemukan cadangan
‘Ertsberg’. 1960 – Ekspedisi Forbes Wilson untuk menemukan kembali ‘Ertsberg’.
1967 – Kontrak Karya I (Freeport Indonesia Inc.) berlaku selama 30 tahun sejak
mulai beroperasi tahun 1973. 1988 – Freeport menemukan cadangan Grasberg.
Investasi yang besar dan risiko tinggi, sehingga memerlukan jaminan investasi
jangka panjang. 1991 – Kontrak Karya II (PT Freeport Indonesia) berlaku 30
tahun dengan periode produksi akan berakhir di tahun 2021, serta kemungkinan
perpanjangan 2x 10 tahun (sampai tahun 2041).
Luas
wilayah
Eksplorasi KK-A = 10.000 Ha Eksplorasi KK-B
= 202.950 Ha Total Wilayah = 212.950 Ha
Luas wilayah KK Blok B terakhir seluas
212.950 hektar tersebut hanya tinggal 7,8% dari total luas wilayah eksplorasi
di tahun 1991.
1991 = 2,6 juta Ha 2012 = 212.950 Ha
Investasi[
USD 8.6 Miliar dengan perkiraan tambahan
investasi sebesar USD 16-18 Miliar untuk pengembangan bawah tanah ke depan. 94%
total investasi tambang tembaga di Indonesia* 30% total investasi di Papua * 5%
total investasi di Indonesia *
·
Menurut data terakhir di MP3EI s/d tahun 2012
Cadangan
terbukti
2,52 Miliar ton bijih: 0,97% Tembaga 0,83
gram/ton emas 4,13 gram/ton perak
Penerimaan
negara
PTFI telah membayar PPh Badan lebih tinggi
dari tarif UU yang kini berlaku. Pembayaran ini merupakan porsi terbesar dalam
pembayaran ke penerimaan Negara. UU PPh Nasional 25% PPh Badan PTFI 35% Sejak
tahun 1999 PTFI secara sukarela telah melakukan pembayaran royalty tambahan
untuk tembaga, emas dan perak jika produksi melebih tingkat tertentu yang
disetujui.
Produks
40% produk konsentrat PTFI dikirim ke PT
Smelting Gresik PTFI membangun pabrik peleburan tembaga (smelter) pertama di
Indonesia, yaitu PT Smelting tahun 1998. Kami memasarkan konsentrat dengan
harga pasar berdasarkan kontrak jangka panjang dengan sejumlah smelter
internasional, dan akan tetap menghormati kontrak-kontrak tersebut.
Divestasi
PTFI mendukung penuh semangat nasional yang
digagas dalam UU Minerba dan telah secara konsisten menerapkannya. Saat ini
18,72% sebelum terdelusi dari 20%, saham PTFI dimiliki oleh Pemerintah
Indonesia dan PT Indocopper Investama masing-masing 9,36%. Berkaitan dengan
IPO, PTFI menyambut baik gagasan tersebut dan sedang melakukan pengkajian.
Pembangunan berkelanjutan
Semua pengertian tentang program
pengembangan masyarakat PTFI harus didahului oleh pengertian tentang sejarah
Papua. Pertama kali PTFI beroperasi pada tahun 1967, masyarakat Papua merupakan
masyarakat pra-moderen. Pada saat itu, masyarakat di sana memiliki tingkat
baca-tulis yang sangat rendah, rentan terhadap wabah penyakit seperti malaria,
dan hidup dalam kemiskinan. Lokasi yang terpencil dan medan yang sulit ditempuh
membuat situasi kurang kondusif.
Oleh karena itu, program pengembangan masyarakat
PTFI difokuskan untuk membantu masyarakat setempat untuk membangun program
ekonomi yang berkelanjutan, meningkatkan kemampuan baca-tulis, memberikan
pelatihan-pelatihan kejuruan, dan mengadakan program kesehatan yang memadai.
Investasi
USD 229,5 juta investasi di program
pembangunan berkelanjutan di Papua selama 2011 USD 76,7 juta untuk Pengelolaan
lingkungan USD 98,4 juta program pengembangan sosial USD 54,4 juta program
pengembangan masyarakat melalui dana kemitraan. Ditambah USD 600 juta investasi
dalam bentuk infrastruktur sosial yang bermanfaat bagi masyarakat lokal secara
langsung (sekolah, rumah sakit, asrama siswa).
Pengembangan
bisnis lokal
Pendapatan usaha kecil tahun 2011: Rp 91,1
miliar
Pembinaan pengembangan bisnis bagi sekitar
220 usaha kecil dan menengah serta usaha lokal dan menciptakan lebih dari 1.000
lapangan kerja bagi masyarakat lokal.
Dana berputar dari Yayasan Bina Utama
Mandiri (YBUM) pada tahun 2011 adalah Rp 4,3 miliar. Sejak dimulai, Rp 28,4
miliar dari pinjaman usaha telah disediakan bagi 220 usaha. Pelunasan pinjaman
sebesear 170%
Pembinaan dilakukan terhadap 406 nelayan di
19 desa, bekerjasama dengan Keuskupan Mimika. Produksi tangkapan ikan 57,5 ton.
Penjualan tahunan Yayasan Jayasakti Mandiri
(Peternakan Ayam di SP IX & XII) sebesari Rp 16,2 miliar. YJM mempekerjakan
lebih dari 438 pekerja dari Papua.
Hingga Desember 2011, sebanyak 179 petani
mitra di 5 desa Kamoro dan 24 petani mitra di desa Utikini Baru dan Wangirja
menerima bantuan pelatihan, bibit, pendampingan dan pemasaran produk sayuran.
Sebanyak 894 petani kopi organic
berpartisipasi dalam pengemangan kopi di Moenamani dan Wamena, serta memperoleh
perpanjangan sertifikasi organic dari Rainforest.
Program
kesehatan
Penyedia layanan rumah sakit terbesar bagi
komunitas Timika dengan lebih dari 156.860 pasien rawat jalan dan rawat inap di
2 rumah sakit.
1.200.000 pasien telah dilayani di RS Mitra
Masyarakat tahun 1999-2011 273.000 pasien telah dilayani di RS Waa Banti tahun
2002-2011
Community Publick Health & Malaria
Control PT Freeport Indonesia (CPHMC-PTFI) bekerjasama dengan LPMAK, KPA Mimika
dan Dinas Kesehatan memberikan pelatihan relawan AIDS kepada 32 orang dari
Tujuh Suku di SP 9, SP 12, Pomako, Nawaripi dan Kwamki Lama.
CPHMC melakukan penyuluhan dan konseling
HIV & AIDS kepada sekitar 15.000 orang dewasa dan remaja di Kabupaten
Mimika serta membagikan sekitar 20.345 kondom Jumlah peserta kegiatan
sosialisasi dan penyuluhan kesehatan tahun 2011 oleh CPHMC mencapai 116.362
dengan berbagai topic seperti: Nutrisi, penyakit menular seksual, malaria, TB,
kebersihan lingkungan, dan kesehatan ibu & anak.
Terlibat dalam penyusunan rencana strategis
kabupaten untuk penanggulangan malaria serta rencana strategis air minum dan
penyehatan lingkungan (AMPL).
Jumlah kasus TB yang ditemukan di klinik TB
yang dikelola CPHMC mengalami penurunan sebesar 30%. Diperkirakan upaya sosialisasi
pendekatan penanganan lewat DOTS (Direct Observe Treatement Shortcourse),
kegiatan pelatihan bagi 24 petugas puskesmas, pustu dan para bidan di 6 desa,
serta pelatihan penanganan pasien TB bagi 16 kader PMO (Pengawas Minum Obat)
dapat memberikan dampak positif penanggulangan TB.
Terjadi penurunan jumlah kasus TB di klinik
CPHMC sebesar 30%.
Program
pendidikan
Pelatihan dan pengembangan dilakukan di
Institut Pertambangan Nemangkawi, yaitu pusat pelatihan berbasis kompetensi
yang menyediakan pengembangan masa magang, khususnya bagi peserta dari Papua.
3.800 siswa magang 90% siswa asli Papua 10% non-Papua 1.800 siswa sudah bekerja
di PTFI dan kontraktornya
Graduate Development Program merekrut
lulusan-lulusan terbaik Universitas. Hingga saat ini terdaftar 631 program dan
374 telah dipekerjakan. 20% diantaranya adalah putra-putri Papua
Sampai dengan 2011, Lembaga Pengembangan
Masyarakat Amungme & Kamoro (LPMAK) melalui dana kemitraan telah
menyediakan beasiswa bagi 8.049 pelajar. Sejak dimulainya program ini, 3.697
pelajar dari SMA sampai dengan program magister telah lulus. Pada tahun 2011,
LPMAK memberikan beasiswa aktif bagi pelajat sekolah dasar sampai dengan
mahasiswa Universitas.
Peserta Beasiswa LPMAK berdasarkan
suku : 44% Amungme (269) 17% Kamoro (107) 4% Damal (24) 7%
Dani (44) 11% Mee (66) 8% Moni (48) 6% Nduga (38) 2% Papua Lainnya (15) 1% Luar
Papua (7)
Kelulusan berdasarkan jenjang studi : SMU/SMK
50% D3 7% S1 40% S2 3%
Kelulusan tingkat sarjana berdasarkan
bidang studi : 39% Sosial (12) 19% Teknik (6) 19% Ekonomi (6) 23%
Lain-lain (7)
Pada tahun 2006 IPN bekerja sama dengan
politeknik Semarang meluncurkan program magang Administrasi Bisnis D3. Sejumlah
36 peserta telah lulus pada tahun ajaran 2008-2009 dan 24 partisipan sedang
mengikuti program di tahun ajaran 2010-2012. Program Magister Administrasi
Bisnis yang bekerjasama dengan SBM-ITB diluncurkan pada tahun 2007. 40 peserta
telah lulus pada bulan Juli 2009, 6 diantaranya berasal dari Papua. Angkatan
ke-2 dimulai pada tahun 2009 yang masih berlangsung dengan jumlah peserta
sebanyak 35 karyawan, 7 diantaranya berasal dari Papua.
Ketenagakerjaan
Kebijakan PTFI adalah untuk memberikan
kesempatan bekerja yang sama kepada seluruh masyarakat. PT Freeport Indonesia
juga menjunjung tinggi hak pekerja sesuai dengan hukum yang berlaku di
Indonesia. PTFI juga memiliki komitmen untuk melindungi hak asasi manusia dan
sudah secara tegas memberlakukan dan menegakkan kebijakan hak asasi manusia di
dalam perusahaan.
PTFI memiliki Komitmen dan Kebijakan yang
kuat dan tegas terhadap Hak Asasi Manusia. Komitmen untuk menyediakan peluang
bagi pembangunan sosial, pendidikan, dan ekonomi yang dinyatakan melalui
peraturan ketenagakerjaan sosial dan kebijakan Hak Asasi Manusia.
Pada tahun 2011 PT Freeport Indonesia
mempekerjakan lebih dari 11.300 karyawan langsung dan lebih dari 12.000
karyawan kontraktor.
Jumlah karyawan langsung PTFI: 65,53% Non
Papua, 32,91% Papua, dan 1,55% Asing
Jumlah karyawan PTFI + Perusahaan mitra dan
kontraktor, termasuk Institut Pertambangan Nemangkawi (IPN): 97,7% Indonesia,
2,30% Asing.
Sejak tahun 1996 perusahaan telah
menggandakan jumlah karyawan Papua. Dalam 10 tahun, jumlah karyawan Papua di
tingkat staff meningkat 4 kali lipat, jumlah staf karyawan Papua di tingkat
supervisor 6x lipat.
Karyawan Papua memegang fungsi strategis
manajemen di PTFI: 5 Vice President dan 74 Jajaran Manajerial.
Pada tahun 2003 dibangun Institut
Pertambangan Nemangkawi (IPN) untuk memberikan kesempatan mengembangan
pengetahuan, keterampilan dan sikap maupun perilaku yang profesional di bidang
operasi dan penunjangnya. Program magang 3 tahun dengan 4 bulan masa belajar
off job dan 8 bulan on job. IPN mengikuti standar nasional dan peraturan dari
ESDM serta standar internasional lainnya. 3.800 Siswa magang 20 Jenis
keterampilan 90% siswa asli Papua 1800 Siswa sudah bekerja di PTFI dan
kontraktornya
Meningkatkan karyawan staff wanita di PTFI
dan kontraktor: 12% tahun 2003 dan meningkat menjadi 14,4% di tahun 2011
PTFI berupaya menciptakan lingkungan kerja
yang aman dan kami menjadikan “Keselamatan sebagai budaya” dalam organisasi
PTFI. PTFI memiliki satu catatan terbaik dalam industry sumber daya alam, tapi
yang terpenting bagi PTFI adalah tidak terjadinya kecelakaan.
PTFI dan SPSI telah menyelesaikan semua
perselisihan upah dan menandatangani Perjanjian Kerja Bersama (PKB) yang ke-17,
Periode 2011-2013. Klausa di bawah PKB 2011-2013 telah memenuhi aspirasi para
pekerja, dengan peningkatan gaji pokok 40% efektif selama periode dua tahun.
Manajemen lingkungan
Semua industri, termasuk pertambangan,
memiliki dampak lingkungan yang tidak dapat dihindari, baik dalam positif
maupun dampak negatif, sehingga terjadi pertukaran antara manfaat lingkungan
dan dampak lingkungan. Pemerintah Indonesia memutuskan bahwa tambang ini sangat
penting bagi perkembangan ekonomi Indonesia, dan pemerintah telah mengatur
bagaimana PTFI menjalankan proyek ini agar dapat memberikan manfaat ekonomi
yang diinginkan oleh Indonesia, sementara sedapat mungkin mengurangi dampak
negative terhadap lingkungan. PTFI juga berkomitmen untuk merehabilitasi area
yang terkena dampak ketika area tersebut tidak digunakan lagi untuk kegiatan
operasi.




0 komentar:
Posting Komentar